Cegah Penyebaran Covid-19, Pemkot Surabaya Terapkan Swab Acak di Perkampungan

Surabaya, palevioletred-jellyfish-458835.hostingersite.com – Sebagai upaya untuk mencegah penyebaran Covid-19, pemerintah kota Surabaya menerapkan swab test PCR secara acak di wilayah perkampungan. Terutama di wilayah yang sebelumnya telah ditemukan kasus Covid-19 varian Omicron.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi menyatakan, saat ini pihaknya tengah membahas rencana testing acak tersebut bersama Dinas Kesehatan (Dinkes). Testing acak tersebut, akan diutamakan bagi wilayah perkampungan yang sebelumnya ditemukan kasus Varian Omicron.

“Tidak semuanya dilakukan Swab PCR, tapi diacak. Kita sedang rapatkan dengan teman-teman Dinkes, apakah setiap bulan sekali nanti di setiap RT/RW itu diswab acak. Jadi, meski warga itu sakit atau tidak sakit, ya kita (swab) acak,” kata Wali Kota Eri di Balai Kota Surabaya, Jumat (21/1/2022).

Tak hanya menerapkan Swab PCR acak untuk mencegah kenaikan kasus Omicron, Wali Kota juga mendorong masyarakat untuk menguatkan kembali Satgas Kampung Tangguh. Langkah preventif tersebut dilakukan untuk mengontrol keluar masuknya warga dari luar daerah. “Satgas Kampung Tangguh itu harus kita kuatkan lagi, untuk lebih menjaga kampung. Kemudian, posisi warga yang dari bepergian ke luar kota itu siapa, juga harus mau dilakukan Swab PCR,” ujarnya.

Baca Juga :   Perkuat Pengawasan Kawasan Tanpa Rokok, Satpol PP Akan Dikerahkan Berjaga di Fasum

Meski demikian, ia tak melarang warganya bepergian ke luar kota apabila memang ada kepentingan. Namun, dia berharap, warga tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan (Prokes). Hal tersebut dikarenakan, penularan Covid-19 tak memandang usia atau tempat.

“Kalau ke luar kota ada kepentingan, di sana tetap dijaga maskernya, jaga Prokes. Karena yang bisa menjaga adalah diri kita sendiri. Makanya saya selalu sampaikan ke warga, ayo jogoen awakmu dewe (jaga dirimu sendiri), karena bukan kita sendiri yang rugi jika kena, juga merugikan orang-orang sekitar kita,” tuturnya.

Wali Kota Eri juga menerangkan, bahwa pasien Omicron saat ini dalam kondisi baik dengan CT Value tinggi. Bahkan, pasien Omicron tersebut, berstatus Orang Tanpa Gejala (OTG). Menurutnya, hal itu bisa saja karena warga yang terkena Covid-19 sebelumnya telah mendapatkan vaksin dosis 1 dan 2.

Baca Juga :   Antisipasi Pemudik, Bupati Kudus Ketatkan 3T

“Makanya saya bilang warga Surabaya yang belum vaksin dosis 1 dan 2 agar segera vaksin. Jadi, salah satu untuk mencegah Omicron adalah vaksin 1 dan 2. Artinya, kalau kena tidak seberapa parah,” jelasnya.

Di sisi lain, saat ini ketika ditemukan warga terkonfirmasi Covid-19 kondisinya sehat, Wali Kota berasumsi jika warga tersebut terpapar varian Omicron. Sehingga, whole genome sequencing (WGS) pasien itu langsung dikirim ke Institute of Tropical Disease (ITD) Universitas Airlangga (Unair) untuk dipastikan variannya.

“Kalau sudah ada yang positif, kita sekarang anggapnya Omicron, kita berpikirnya begitu. Karena kita mending lebih berhati-hati, dan sampelnya kita kirimkan ke ITD Unair,” kata dia.

Sembari menunggu hasil WGS dari ITD Unair keluar, pasien tersebut harus menjalani isolasi dan perawatan selama 14 hari. Akan tetapi, Wali Kota Eri menginginkan agar isolasi tersebut dapat dilakukan di rumah sakit rujukan atau tempat isolasi terpadu. Sebab, ketika pasien tersebut menjalani isolasi di rumah, hal ini justru dapat menjadi klaster penularan.

Baca Juga :   Dinkes Surabaya Laporkan Dugaan Sindikat Jual Beli Vaksin Booster Berbayar

“Kalau ada rumah sakit (RS), mendingan (isolasi) ke rumah sakit, karena RS banyak yang kosong. Kalau ada yang positif, jangan isolasi di rumah, karena BOR (Bed Occupancy Rate) banyak yang kosong, kan kasihan juga dampaknya,” pungkasnya. (*)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari palevioletred-jellyfish-458835.hostingersite.com  di Google News. silahkan Klik Tautan dan jangan lupa tekan tombol "Mengikuti"

Jangan lupa kunjungi media sosial kami

Video Viral

Kamarkos
Pojoke Pati