palevioletred-jellyfish-458835.hostingersite.com – Sebagai upaya untuk mengembangkan desa wisata di tahun 2022, pemerintah provinsi Jawa Tengah menganggarkan dana bantuan senilai Rp18,5 miliar.
“Di tahun 2022 ini kita sudah menganggarkan Rp 18,5 miliar untuk 131 desa wisata,” kata Kasi Pengembangan Daya Tarik Wisata Disporapar Provinsi Jateng, Riyadi Kurniawan, saat menghadiri Pertemuan Forum Komunikasi Desa Wisata Jawa Tengah Ke XXII dan Pengukuhan Forum Komunikasi Desa Wisata Kabupaten Purworejo Tahun 2022, di Desa Pandanrejo, Kabupaten Purworejo, Sabtu (26/2/2022) malam.
Riyadi menambahkan bahwa anggaran bantuan untuk pengembangan desa wisata ini sudah dilakukan sejak 2020. Dimana dana sebesar Rp18,5 miliar ditujukan bagi 100 desa. Sedangkan di tahun 2021, pihaknya Kembali menganggarkan Rp32 miliar yang ditujukan bagi 260 desa wisata yang ada di Jateng.
Adapun untuk bantuan di tahun 2022, besaran bantuannya Rp1 miliar untuk desa wisata maju, Rp500 juta untuk desa berkembang, dan Rp100 juta untuk desa wisata rintisan. Melalui dana pengembangan desa wisata itu, kata dia, potensi desa diharapkan bisa digali dan menjadi sejumlah sajian pariwisata atau produk pariwisata.
“Sehingga nantinya kita punya berbagai macam pilihan kepada wisatawan, untuk ditawarkan ke desa wisata yang dikunjungi. Itu sebagai pengungkit ekonomi masyarakat tingkat desa,” jelas Riyadi.
Ditambahkan, jumlah desa wisata di Jateng juga terus meningkat. Dari yang semula pada beberapa tahun lalu hanya sekitar 500 desa, sekarang naik menjadi 717 desa. Masing-masing desa wisata diharapkan mempunyai keunikan tersendiri, atau memiliki perbedaan antara satu desa dengan desa wisata lainnya.
“Kami juga mengharapkan teman desa wisata melalui pembinaan dan pelatihan supaya mereka bisa berkolaborasi. Tidak berkompetisi secara bebas,” ujarnya.
Salah satu ketua pengelola desa wisata Pandanrejo, kabupaten Purworejo, Albertus Desy Nugroho mengungkapkan bahwa pihaknya memiliki keunikan tersendiri untuk mengembangkan desa wisata di wilayah tersebut.
“Kita punya kekhasan namanya kambing Kaligesing atau kambing etawa, yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah warganya. Hampir semua rumah memelihara kambing,” kata Desi.
Ia menuturkan, terdapat beberapa aktivitas masyarakat yang bisa menjadi daya tarik wisata. Seperti wisata edukasi yaitu satu perkampungan ada yang fokus untuk menata tanaman, belajar olahan sampah, hingga buat kerajinan tangan.
Adapun potensi objek wisata alam yaitu Watugajah dan Bukit Sebutrong. Ada pula gardu pandang, sehingga wisatawan bisa menikmati pemandangan desa dari ketinggian. Potensi lain desa wisata itu adalah tradisi kirab kambing, dan lain sebagainya. (*)