Rembang, palevioletred-jellyfish-458835.hostingersite.com – Pasar Tani menjadi agenda rutin yang diadakan Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang setiap dua minggu sekali. Melalui Pasar Tani inilah petani mendapat keuntungan lebih besar dibanding dengan penjualan ke tengkulak.
Kegiatan rutin tersebut diikuti oleh seluruh Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan di Kabupaten Rembang. Dengan total 14 BPP, produk yang dijual di Pasar Tani sangat beragam.
Iin selaku Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) BPP Kecamatan Sarang menilai penjualan di Pasar Tani ini merupakan momen untuk selamatkan harga produk pertanian dari tengkulak. Sebab di Pasar Tani ini, petani bisa menjajakan dengan harga murah akan tetapi keuntungan yang didapatkan jauh lebih besar.
“Kalau ke tengkulak itu kan biasanya rantai pemasarannya lebih panjang ya, jadi harga di pasar lebih tinggi. Kalau di sini kita jual lebih murah, sekitar Rp1.000 sampai Rp3.000 dari harga pasar,” terangnya.
Hari ini, Jum’at (11/3/2022), BPP Kecamatan Sarang kembali menjajakan produk pertanian dan peternakan mereka berupa cabai, terong, dan telur yang merupakan produk dari petani lokal di wilayahnya.
“Kita bawa produk dari petani Sarang. Kita biasanya bawa telor, terong, cabainya kita biasanya bawa cabai rawit, cabai merah, dan cabai jenis setan,” ungkapnya.
Sementara itu, BPP Kecamatan lainnya juga turut menjual produk pertanian mereka. Salah satunya dari BPP Kecamatan Kragan.
Auliya selaku petugas BPP Kecamatan Kragan menyatakan produk yang ia jual mampu bersaing dengan harga pasar.
“Ini jual bawang, brambang (bawang merah), cabai, kacang panjang, ayam, dan bebek. Semuanya produk asli Kragan. Kalau di sini, warga tahunya kan lebih murah dibandingkan di pasar,” katanya.
Dirinya turut mengungkap, hasil yang didapat petani dibandingkan dengan penjualan ke tengkulak jauh lebih menguntungkan saat dijual di Pasar Tani ini.
“Ini tadi bawa 50 bungkus, alhamdulillah habis. Cuma kalau siang kok belum laku, kita turunkan harga tapi Petani insyaallah tetap untung,” tandasnya. (*)